Lewati ke konten

Dari akar yang sama, kita tumbuh.

AkarKita adalah pohon keluarga privat untuk keluarga Nusantara: merawat silsilah, silaturahmi, dan cerita, dengan istilah kekerabatan keluargamu sendiri.

Layar Pohon Keluarga AkarKita: pasangan pusat Rizky Maulana dengan orang tuanya Dedi Suryana, kakek-nenek Ujang Suryana dan Euis Komala, serta kedua anaknya Alif dan Nadia. Tiap orang digambar sebagai lingkaran berinisial dengan nama dan tahun lahir, dihubungkan garis keturunan.Layar Pohon Keluarga AkarKita: pasangan pusat Rizky Maulana dengan orang tuanya Dedi Suryana, kakek-nenek Ujang Suryana dan Euis Komala, serta kedua anaknya Alif dan Nadia. Tiap orang digambar sebagai lingkaran berinisial dengan nama dan tahun lahir, dihubungkan garis keturunan.
Keluarga contoh; semua nama fiktif.

Kenapa nama-nama itu hilang

Kata orang, manusia mati dua kali: sekali saat berhenti bernapas, dan sekali lagi saat namanya disebut untuk terakhir kalinya.

Kematian kedua itu datang lebih cepat dari yang kita kira. Sebuah survei menemukan betapa pendeknya ingatan kita pada leluhur sendiri:

53%

tidak bisa menyebut nama keempat kakek dan neneknya.

4%

saja yang bisa menyebut nama kedelapan buyutnya.

Sumber: survei Ancestry, 2022.

Coba sekarang: bisakah kamu menyebut nama kedelapan buyutmu?

Orang tua dari kakek pihak ayah

Kelompok 1 dari 4

0 dari 8 nama terisi

Belum ada yang terisi. Tenang, kebanyakan orang juga begitu. Justru dari sinilah cerita keluarga mulai dicari lagi.

Tidak ada yang disimpan atau dikirim ke mana pun. Latihan kecil ini sepenuhnya tinggal di layarmu.

Dulu peta kekerabatan dijaga secara lisan: di teras rumah, di warung kopi, di acara keluarga. Rantau dan hidup di kota memutus obrolan itu pelan-pelan, dan bersamanya memudar pula nama-nama yang dulu semua orang hafal. Pohon ini dibuat supaya yang memudar itu tercatat sebelum hilang.

Setiap keluarga Nusantara punya caranya sendiri menamai kerabat dan menjaga silsilahnya. Dua yang datanya sudah lengkap di AkarKita:

Pancakaki: menelusuri, lalu menamai

Dalam tradisi Sunda, pancakaki punya dua makna. Yang pertama adalah kebiasaan: dua orang yang baru bertemu saling menelusuri hubungan kekerabatannya dulu, urang pancakaki heula, siapa tahu ternyata masih saudara. Yang kedua adalah kosakatanya: tangga istilah yang menamai tujuh turunan ke bawah, satu per satu, sampai generasi yang belum lahir pun sudah punya nama panggilan.

Ketuk tiap anak tangga untuk melihat generasi keberapa dia dari kamu.

Anak adalah turunan generasi ke-1 di bawahmu.

Anak kandung.

Di balik tangga itu ada etos yang lebih dalam: silih asah, silih asih, silih asuh, saling mengasah, saling mengasihi, saling mengasuh. Kerabat yang saling tahu namanya lebih mudah saling menjaga.

Suku, ranji, dan rumah gadang

Minangkabau menganut garis ibu: setiap anak mewarisi suku ibunya, dan lewat garis itu pula rumah gadang serta tanah pusaka diturunkan. Yang menjaga garis itu adalah para niniak mamak, saudara laki-laki dari pihak ibu, yang memikul urusan kemenakan mulai dari adat sampai jodoh.

Bagi anak Minang di rantau, satu pertanyaan bisa menentukan jodoh: “Sukumu apa?” Dua orang yang sesuku dianggap bersaudara dan pantang menikah. Ranji, catatan silsilah yang dijaga tiap kaum, menjaga jawabannya.

AkarKita meneruskan tradisi ranji itu dalam bentuk digital. Ranji yang dijaga para tetua tetap yang utama; versi digital ini memastikan generasi rantau ikut bisa membacanya, lengkap dengan suku yang tercatat di tiap nama.

Budayamu belum ada di sini?

Istilah kekerabatan tersimpan sebagai data, bukan kode: menambah budaya ketiga berarti menambah baris, bukan menulis ulang mesinnya. Kalau keluargamu punya sistem kekerabatan sendiri, mintalah undangan dan sebutkan budayanya.

Menyambung yang diperintahkan tersambung

Seperti pesan falsafah Minang, adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah: adat bersendi pada syariat, dan syariat bersendi pada Kitabullah. Bagi keluarga muslim mana pun, dasar itu bukan cuma milik satu adat.

“Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
HR Bukhari no. 5986 dan Muslim no. 2557.

Menyambung silaturahmi dimulai dari mengenal siapa saja kerabat kita. Karena itu Islam menaruh perhatian besar pada nasab, dan dalam fiqh ia dijaga setidaknya untuk tiga hal:

Mahram
menentukan siapa yang haram dinikahi dan bagaimana adab pergaulan di antara kerabat.
Wali nikah
urutan wali mengikuti garis nasab, dari ayah, kakek, lalu kerabat laki-laki terdekat.
Waris
siapa mewarisi siapa, dan berapa bagiannya, ditentukan oleh hubungan darah dan pernikahan.

Untuk waris, bagiannya bahkan tertulis eksplisit di Al-Quran, pada QS An-Nisa ayat 11, 12, dan 176. Ilmu menghitungnya disebut faraid, dan itulah yang bisa kamu pelajari lewat simulator warisan di situs ini.

Delapan generasi, dari gantung siwur sampai cucu, dalam satu layar.

Pohonnya digambar menurun, leluhur di atas dan keturunan di bawah, dengan warna yang menandai jarak generasi dari dirimu: dua keluarga besar berdampingan, tersambung oleh satu pernikahan.

Seluruh pohon keluarga contoh: garis paternal Rizky Maulana naik delapan generasi sampai Surya, keluarga Sunda di kiri dan keluarga Minang Putri Ramadhani di kanan, dengan garis putus-putus yang menghubungkan pasangan lintas keluarga.Seluruh pohon keluarga contoh dalam mode gelap: garis paternal Rizky Maulana naik delapan generasi sampai Surya, keluarga Sunda di kiri dan keluarga Minang Putri Ramadhani di kanan.
Tampilan Pohon Keluarga pada keluarga contoh; semua nama fiktif. Di aplikasinya, cubit untuk mendekat sampai nama dan tahun lahir terbaca.

Tiga langkah menanam pohon

  1. Langkah 1

    Mulai dari dirimu

    Satu nama saja sudah cukup untuk menanam pohonnya: namamu sendiri.

  2. Langkah 2

    Rangkai ke atas dan ke samping

    Tambahkan orang tua, pasangan, dan saudara. Tandai budaya dan suku bila keluargamu memakainya.

  3. Langkah 3

    Hidupkan ceritanya

    Lengkapi dengan foto, tanggal, kampung halaman, dan cerita. Nama yang punya cerita tidak mudah dilupakan.

Ilmu faraid sering baru dicari saat sudah terlambat, saat keluarga sedang berduka.

Pelajari sekarang, selagi tenang. Simulatornya terbuka untuk siapa saja, tanpa akun, dan menghitung sepenuhnya di perangkatmu.

Buka simulator

Data keluarga kamu privat. Titik.

  • Hanya yang diundang.

    Hanya anggota keluarga yang diundang yang bisa masuk. Tidak ada pendaftaran umum.

  • Tanpa iklan, tanpa tracker.

    Tidak ada pihak ketiga yang mengintip di balik halaman ini.

  • Databasenya milik keluarga.

    Ada di akun kami sendiri, dan bisa dibawa pergi kapan saja lewat ekspor.

  • Hitungan waris di perangkatmu.

    Data yang kamu isi di simulator tidak pernah dikirim ke server mana pun.

Selengkapnya di halaman privasi.

Pohon ini ditanam untuk keluarga kami. Kalau kamu bagian dari keluarga, masuklah.

Belum diundang? Tombol di atas membuka email baru ke pengelola keluarga, tinggal sebutkan siapa kamu di keluarga ini. Kalau tidak ada yang terbuka, tulis langsung ke farrezalhakim@gmail.com.